Dunia Terlalu Serius, Padahal Kita Semua Cuma Mau Hidup Tenang Tanpa Harus Dihantui Rasa Bersalah

 

Sumber Gambar: chatgpt.com

"Konon katanya, hidup di dunia itu cuma mampir ngombe. Tapi kok mampirnya kudu bahagia dulu, harus positif vibes, harus grateful 24/7, harus glow up lahir batin. Minum aja gak boleh sambil manyun, nanti di bacotin kurang mindfulness".

Sepertinya kita sudah sering banget mendengar bahwa hidup itu hanya sekedar mampir ngombe, bukan? ah, keliatanya memang se-sederhana itu, namun pada kenyataanya hidup malah se-nggak sederhana itu, huhuhu.

Perlu di garis bawahi, bahwa ini aku memaknai mampir ngombe dengan arti lain yaa....., bukan mampir ngombe dengan arti yang sesungguhnya, atau yang sangat masyhur itu dimaknai sebagai "bahwa hidup di dunia hanya sebentar, ahirat selamanya", tapi bukan itu yang aku maksut. 

Yang aku maksut, mampir ngombe disini adalah bahwa hidup sepertinya sangat sederhanya, hanya di ibaratkan mampir minum habis itu jalan lagi, tapi..... kenyataanya hidup itu nggak se-sederhana itu, hmmmm.

Disatu sisi kita ingin menjadi individu yang bernilai tinggi (high value) lah, hebat lah, unik lah, dan lah-lah yang lain. Namun, disisi lain kita juga menginginkan hidup yang biasa aja, tenang, lebih-lebih bisa santai gitu, nggak yang harus lari kenceng banget yang kemudian membuat kita tidak menghargai  proses dan tidak menyadari batas kita sebagai manusia. Emmmm....... iyaa gak sih? tentu saja boleh iya boleh nggak, karena kalian bebas menjalani itu.

Tapi kenapaa sih? kok hidup di dunia tu, sekarang kek berat banget? sadar gak sih? orang tua kita dirumah kerja mati-matian tapi gajinya bercanda terus. Seolah-olah realitas itu memang mempermainkan kita pakai skrip lawakan, tapi yang jadi korban ya kita-kita ini. Kek jahat banget, namun ya begitulah adanya.

Secara sosiologis, kita ini hidup dalam struktur masyarakat yang sudah membentuk ekspektasi tertentu terhadap siapa kita seharusnya menjadi. Misal, kalau kamu laki-laki, kamu "harus" jadi tulang punggung. Kalau perempuan, kamu "harus" bisa multitasking, cantik, cerdas, tapi nggak boleh lebih tinggi dari laki-laki. Ini bukan perintah secara langsung, tapi norma-norma sosial itu hidup, ada dan bernafas di sekeliling kita. Kita menyerapnya sejak kecil, mulai dari unit terkecil keluarga, lingkungan, dari media, dari tetangga yang kalau ngomentarin hidup orang lain bisa lebih detail dari berita politik, huhuhu.

Di sisi lain, kapitalisme modern menciptakan ilusi bahwa "nilai diri" seseorang harus terukur, entah lewat uang, pencapaian, branding diri, atau minimal feed Instagram yang estetik. padahal, ya nggak semua orang punya privilege, waktu, atau energi untuk tampil on point setiap hari. 

Tapi karena kita hidup dalam masyarakat yang sangat performatif, maka tekanan itu jadi sistematik. Dan ketika kita tidak sanggup mengikuti "perlombaan sosial" tersebut, muncullah perasaan gagal, tidak cukup, bahkan tidak layak dicintai. Inilah yang dalam sosiologi sering disebut sebagai alienasi, kita terpisah dari jati diri karena tuntutan eksternal yang memaksa kita untuk terus "menjadi sesuatu" alih-alih "menjadi diri sendiri".

Kalau dari sudut pandang psikologis..........em, mungkin ini hanya pemahamanku secara dangkal, karena memang aku ngga banyak belajar tentang psikologi, tapi kita lanjutkan saja. 

Nah, kondisi yang sudah di gambarkan di atas, sangat mungkin memunculkan gejala-gejala stres, kecemasan eksistensial, bahkan depresi ringan yang sering kali tidak kita sadari. Mulai dari kita yang merasa bersalah ketika tidak produktif, kita yang merasa tertinggal karena orang lain tampak lebih berhasil (padahal kita juga nggak tau kalau mereka mungkin juga sering nangis di kamar mandi). Kita menekan emosi karena takut dianggap lemah. Kita ingin bebas, tapi juga takut keluar dari jalur (norma masyarakat modern desain kapitalism) yang dianggap benar oleh mayoritas.

Aku inget banget, ada istilah menarik dari seorang psikolog amerika bernama Carl Rogers. Ia memperkenalkan konsep incongruence, yang secara sederhana berarti kesenjangan antara jati diri kita yang sesungguhnya dan versi diri yang dituntut untuk kita tampilkan. Semakin lebar jarak antara keduanya, semakin rentan pula kondisi mental kita. Kita jadi mudah lelah, mudah marah, mudah kecewa, karena terus-menerus menjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya kita.

Jadi wajar saja kalau hidup kadang terasa berat, karena kita sedang berusaha menavigasi kompleksitas identitas di tengah dunia yang terus menuntut banyak hal, tapi memberi sangat sedikit ruang untuk beristirahat dan menjadi apa adanya.

Untuk tetap menjaga kewarasan mental, mungkin menjadi "biasa saja" bisa jadi cara lain untuk menghadapi krisis jati diri yang masing-masing kita alami.  Bisa jadi, menjadi "biasa saja" bukan berarti gagal, tapi bisa jadi itu bentuk paling jujur dari pencapaian dan rasa cukup dengan diri sendiri.

Lagi pula, duduk santai sambil ngopi, nyebat dan ngelihat hujan kadang jauh lebih menenangkan ketimbang terus-menerus cari pengakuan yang nggak ada habisnya, hmmmmmm, iya gak sih? tentu saja boleh iya boleh tidak hihihihi.

Oleh: Rofiul

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wasit Asosiasi Futsal Kabupaten Rembang Disorot, Final Kamaresa Futsal Cup Diwarnai Protes

Pembuka Semarak Dies Natalis ke-31: Kamaresa Futsal Cup Vol. 2

KAMARESA Gelar Meet Up Sapa Maba Batch 2: Pererat Silaturahmi dan Kenalkan Lingkungan Kampus