Di Mobil
"Tadi keponakanmu kamu kasih berapa?" Tanya Reni agak satir.
"Lima puluh ribu. Kenapa memangnya?" Jawab Roy santai sambil tetap menyetir.
"Kalau segitu kebanyakan dong! Dua puluh ribu sudah cukup harusnya. Nanti misal ke rumah kakakmu nggak usah ngasih-ngasih uang lagi! Sudah tahu sekarang kerjaan lagi sepi."
"Ya nggak gitu juga. Keponakanku kan keponakanmu juga. Lagian mereka masih sekolah, bahkan ada yang di pesantren. Mumpung momen lebaran kan nggak apa-apa. Hitung-hitung beramal juga." Ucap Roy mencoba memberi istrinya pengertian.
"Nggak usah! Aku belum beli oleh-oleh buat Ibu sama Bapak. Keponakan-keponakanku juga belum tak kasih. Kalau kamu kasih ke saudaramu semua nanti ludes duit kita. Saudaraku jadi nggak ada yang kebagian. Pokoknya jangan!" Reni mulai berkata dengan nada tinggi.
Roy hanya diam. Wajahnya mulai berubah sementara laju mobil terasa makin cepat.
"Adik-adikku tiap pulang lebaran ke rumah Bapak-Ibu pasti membawa oleh-oleh yang bagus-bagus. Bimo dengan istrinya, Rudi dengan istrinya, Lita sama suaminya, semuanya. Kita juga harus begitu. Kalau duitnya kamu kasih ke saudaramu semua malah repot. Lagian punya saudara kok miskin-miskin, jelek-jelek pula."
"Dari dulu selalu begitu, nggak pernah berubah!" Bentak Roy tiba-tiba. "Kamu cuma mikirin dirimu dan keluargamu. Nggak pernah peduli denganku, saudaraku, keluargaku; nggak pernah sama sekali. Aku tahu keluargaku semuanya miskin dan jelek, aku tahu. Tapi kamu harusnya nggak bersikap begitu. Pakai otakmu! Aku juga ngasih mereka dengan uang-uangku sendiri. Aku tak pernah menyusahkanmu. Sifatmu yang begini ini yang membuatku capek. Dasar tolol!"
"Kamu yang tolol! Kamu yang harusnya pakai otak! Dasar suami nggak becus!" Teriak Reni sambil perlahan tampak air yang menggenang di matanya.
Mobil perlahan-lahan berjalan pelan. Roy membawanya ke tepi lalu berhenti. Kemudian,
Plaakkkkk, terdengar suara cukup keras seperti bunyi tamparan.
Di kursi belakang, Naila yang masih kecil duduk sendirian sambil memeluk boneka beruang merah muda; sedari tadi menangis hening melihat orang tuanya bertengkar tak habis-habis.
Rembang-Semarang, 2021-2022.
Biodata Penulis
A. Zulfa Muntafa lahir pada 29 April tahun 2000 di Kemadu—Sulang, Rembang, Jawa Tengah. Penulis berstatus sebagai mahasiswa di program studi S2 Pendidikan Bahasa Arab UIN Walisongo Semarang. Beberapa tulisannya sempat dimuat di Kompas, Tatkala, dan media-media lainnya. Karya tulisnya antara lain buku kumpulan cerpen “Mbah Yai” (2022).
Email: abdullahzulfa7@gmail.com
No. HP/WA: 085600136794
Semoga tambah sukses
BalasHapusAmin
BalasHapus