Merangkai Mimpi di Pesantren

 

Sumber: Google


Mataku memandangi nomor demi nomor di banner pengumuman. Aku berharap nomor pendaftaranku masuk dalam deretan nomor beruntung itu. Jantungku berdegup kencang seraya berucap “Bismilahirrahmanirrahim”. Mata ini terus memandang dari nomor satu ke nomor lainnya. Hingga pandangan ini berhenti pada sebuah titik yang bertuliskan nomor pendaftaranku. 

“Alhamdulillah Ya Allah,aku diterima,” ucapku dengan rasa syukur yang tak terkira. Akhirnya aku diterima di SMA terbaik di daerahku. 

Bis yang aku tumpangi tak terasa panas hari ini, keringat ibu-ibu yang pulang dari pasarpun tercium wangi. Aku sudah tak sabar ingin sampai di rumah dan mengabarkan keberhasilanku ini kepada Ibu. Baru kali ini aku dapat membuat mereka bangga. Tentunya dengan diterimanya aku di sekolah yang diidamkan oleh kedua orang tuaku. 

***

“Kenapa tidak boleh Ayah?” kataku mengiba. Aku ingin tahu kenapa Ayah tidak memperbolehkanku sekolah SMA sambil menimba ilmu agama di Pondok Pesantren. 

“Ayah ingin kamu tetap fokus dengan ilmu pengetahuanmu,” ujar Ayah dengan menepuk-nepuk pundakku.

“Tapi Ayah, aku ingin belajar mengaji seperti teman-temanku, apa itu salah?" kataku sedikit memaksa.

“Anakku, dengarkanlah ayah, biaya SMA dengan mondok itu mahal lagi pula rumah kita kan dekat dengan SMA jadi tak perlu mondok,” ujar Ayah meyakinkanku.

“Tapi aku tetap ingin mondok, Yah,” kataku dengan terus mengiba.

“Sekali tidak ya tetap tidak!” ujar Ayah sembari meninggalkanku menuju ke samping rumah. Jawaban Ayah tadi membuatku tersentak. Aku terpaku tak hentinya memikirkan ucapan beliau. Aku hanya ingin mengenal ilmu yang belum pernah aku kenal. “Ya Allah, luluhkanlah hati Ayahku,” kataku perlahan. 

Tiba-tiba Ibu merangkulku dari belakang dan menciumku sangat lama.“Yunus, sabar nak! Semoga Allah membuka pintu hati Ayahmu,” ujar Ibu padaku.

“Iya Bu, Yunus akan selalu berdo’a untuk Ayah,” kataku sembari berlalu meninggalkan Ibu seorang diri. Perasaan sedih dan kacau beradu menjadi satu dalam rongga dada. Tak lama kemudian, Ayah menghampiriku seraya berkata “Lakukan nak! Ayah mendukungmu.”

Aku hampir tak percaya dengan ucapan yang dibisikan di telingaku. “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih Ayah,” ucapku dengan memeluk tubuh renta Ayahku.

***

Hari ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pondok pesanten ini. Aku kebingungan, mata ini tak henti-hentinya memandangi tembok-tembok tinggi di pesantren. Tembok itu terasa sangat dingin padaku. Semakin kupandang semakin membuatku merasa kecil dan asing. “Ya..Allah, mudahkan aku dalam menuntut ilmu,” bisikku sembari mencari tempat istirahat.

“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di masjid,” kataku sambil membuka sepatu. Kemudian terlihat seseorang laki-laki berkumis mendekatiku.

“Kang, santri baru ya? Namanya siapa?” katanya sambil mengulurkan tangan padaku.

“Oh..iya kang. Saya Muhammad Yunus Khadafi, Kang. Panggil aja Yunus.”

“Aku Ibrahim. Pengurus pondok. Semoga nanti betah di pesantren.”

“Iya Kang, amin. Permisi Kang, mau ambil wudhu dulu.”

“Oh…iya silahkan.”

Akupun bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat ashar berjamaah. Seusai sholat tak lupa aku memanjatkan doa untuk kedua orang tuaku. Entah kenapa baru sehari saja meninggalkan rumah aku sudah ingin segera kembali. Saat itu aku teringat pesan Ayah ketika aku hendak berangkat ke Pesantren.

”Yunus, jaga dirimu baik-baik di pesantren. Nak, Ayah ingin melihat kamu menjadi orang yang berilmu dan berakhlak mulia." 

Kemudian terbayang pula wajah teduh Ibu yang sangat menyayangiku. "Anakku, semoga setiap langkahmu dalam lindungan Allah” . 

***

Setelah satu bulan di Pondok Pesantren…..

Awal hidup di pesantren memang tak semudah yang aku bayangkan. Aktivitas dari bangun pagi hingga kembali tidur sudah diatur di selembar kertas yang ditempel di dinding kamar masing-masing. Ketika waktu sholat tiba, sudah ada pengurus yang meneriaki untuk jama’ah. 

“Kang, jama’ah kang, jama’ah,” teriak salah satu pengurus bidang pendidikan yang sontak mengagetkanku.

“Iya Kang, siaaaapppp," jawabku singkat kompak dengan teman-temanku. Aku sesegera mungkin turun dari lantai 3 kamar menuju mushola untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat jama’ah. Namun, sebelum itu terlenih dahulu kulaksanakan sholat rawatib, lalu kuambil Al-Qur’an sembari menunggu sholat jama’ah. Tak lama kemudian, suara kentungan berbunyi menandakan dimulainya sholat jama’ah. Setelah sholat jama’ah selesai, aku dan teman-temanku bergegas menuju tempat guruku untuk ngaji kitab. 

Hal semacam itu telah menjadi aktivitasku sehari-hari. Ditambah lagi aku harus bisa membagi waktu antara belajar ilmu umum dengan mengaji. Aku tak pernah mengeluh dengan keaadan yang kualami saat ini. Meskipun berat aku tetap bersemangat. Hari demi hari kulalui dengan belajar dan belajar. Aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku, terutama Ayah yang telah meridhoiku untuk menimba ilmu agama di pondok pesantren ini.

Tak jarang rasa rindu datang memenuhi rongga dada. Aku sempatkan untuk menelepon Ayah dan Ibuku di rumah untuk sekedar menanyakan kabar mereka. Hatiku serasa tenang ketika mendengar kabar kedua orang tuaku dan rasa semangatku untuk belajar semakin menggelora. Rasa rindu kepada orang tuaku sedikit terobati dengan telepon tadi setelah sebulan lebih aku dipondok. 

Setelah selesai menelpon, aku bergegas menuju kamarku “Aku lelah sekali!“ kataku sembari merebahkan badanku ke lantai dan berharap agar segera bisa tertidur.

***

Malampun berganti, kokok ayam jantan mulai terdengar satu per satu. Suara kicauan burung pipit juga ikut meramaikan sunyinya subuh pagi ini. Sebelum suara adzan berkumandang, Segera aku selesaikan makan sahurku. “Ya Allah, Aku berniat berpuasa sunah hari senin. Kuatkanlah tubuhku hinga sore hari. Aamiin,” gumamku dalam hati. 

Dengan semangat berjuang untuk mencari Ilmu Agama dan ilmu pengetahuan umum, kulangkahkan kaki menuju ke depan gerbang pondok untuk menunggu angkot yang biasa kutumpangi dengan teman-temanku ke sekolah. Pagi ini sinar matahari nampak cerah. Jalananpun terlihat tak begitu ramai. Setelah sampai di sekolah, kulihat beberapa siswa berduyun-duyun menuju kelas. 

Namun langkahku terhenti ketika tepat berada di depan papan pengumuman. Dalam pengumuman itu tertera bahwa minggu depan akan diadakan seleksi olimpiade matematika di salah satu perguruan tinggi. “Aku harus ikut!” kataku sambil menulis persyaratan-persyaratan yang harus aku lengkapi. 

Saat itu pula aku segera berlari ke kelas untuk meminjam telepon genggam milik temanku. Aku segera menelpon orang tuaku untuk meminta izin dan mohon doa pada kedua orang tuaku. Dengan segenap keyakinan yang kuutarakan kepada kedua orang tuaku, akhirnya mereka mengizinkanku untuk mengikuti seleksi tersebut.

***

 Hari yang kutunggu pun tiba. Aku bergegas menuju ruangan seleksi dan mengerjakan soal yang diberikan dengan penuh kemantapan. Beberapa hari setelah tes selesai, hasilnya pun keluar dan alhamdulillah akhirnya aku lulus dalam seleksi penerimaan peserta olimpiade tersebut. Aku merasa senang sekali hari itu dan kulontarkan kebahagianku kepada kedua orang tuaku melalui telepon. Terima kasih ya Allah, ini adalah kado untuk kedua orang tuaku.


Oleh: Puan KAMARESA (2020) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wasit Asosiasi Futsal Kabupaten Rembang Disorot, Final Kamaresa Futsal Cup Diwarnai Protes

Pembuka Semarak Dies Natalis ke-31: Kamaresa Futsal Cup Vol. 2

KAMARESA Gelar Meet Up Sapa Maba Batch 2: Pererat Silaturahmi dan Kenalkan Lingkungan Kampus