Yang Penting, Jangan Mabuk dalam Kemalasan
Tawar seorang pedagang dalam bus yang kala itu berhenti di salah satu terminal. Sembari membawa satu buah tisu dua ribuan dan segelas teh kotak di tangan kanannya, ia berjalan tiga kali bolak-balik menawarkan barangnya.
Ting, ting, ting
Sedikit ku lirik ke kanan, nada dering WhatsApp yang masuk dari perempuan berambut pirang di samping kiriku.
"One set piama, ya, kakak, sekalian pelunasan yang kemarin, total 750.000"
Kulihat dan kubaca pesan itu, seketika isi kepalaku dipenuhi dengan pembenaran atas fakta kehidupan yang keras. Ada yang harus keluar panas-panasan baru mendapatkan rezeki. Ada juga yang hanya melayani via layar HP seketika transferan masuk tanpa pinggang terasa bungkuk.
"Tisu dua pak, sama kacangnya dua bungkus."
Suara muncul dari bangku paling depan.
"Alhamdulillah," ucapku ketika memusatkan mataku ke penjual cangcimen. Beliau akhirnya turun karena bus sudah hampir lima belas menit berhenti di terminal.
Tanpa sengaja dua bola mataku berkaca-kaca, melihat berbagai fakta sosial yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Terlebih, dua pengamen cilik yang kala itu berdiri di depan mataku, menyodorkan kantong kresek bekas permen dengan harapan kuisi dengan uang koin bergambar angklung.
Kembali ku pikir kalimat penjual cangcimen tadi, "Permen jahe buat mengatasi mabuk di bus, asalkan jangan mabuk dalam kemalasan."
Ah diriku ini. Sudah diberi kecukupan buat sekolah tinggi-tinggi, selalu saja nyaman dengan kemalasan.
Cerita hidup kadang memang sepanas Kota Semarang. Lari sana sini, mencari setiap rezeki yang belum tentu didapat hari itu. Tak mengapa, jangan sampai pegangan "yang penting, jangan mabuk dalam kemalasan" roboh ditengah jalan.
Oleh: Shofiyatul Ulya (2020)
Anggota Divisi Kaderisasi

Komentar
Posting Komentar