Pak Usman

Sumber: Pixabay dari https://pixabay.com


Pak Usman adalah salah satu guru sepuh di pondok pesantren Al-Hidayah. Semenjak Mbah Yai wafat beberapa tahun yang lalu, beliaulah yang bertugas mengasuh pesantren dan madrasah. Sebenarnya Mbah Yai mempunyai putra yaitu Gus Adib namun dia masih mondok di salah satu pesantren salaf di kota P. Gus Adib masih terlalu muda untuk diberikan mandat seberat mengelola pesantren, apalagi santrinya yang tidak sedikit. 

Waktu itu selang beberapa hari setelah Mbah Yai wafat—beliau dimakamkan di kompleks pesantren, tidak di pemakaman umum—para ustaz dan penasihat sepakat menunjuk Pak Usman sebagai pengasuh utama pesantren sekaligus kepala madrasah. Selain karena belum menikah, beliau juga masih menetap di pondok sehingga akan lebih mudah untuk mengawasi keadaan pesantren dan para santri. Gus Adib sendiri biar fokus menuntut ilmu lebih dahulu; begitu hemat para beliau. Pak Usman pun tak punya pilihan selain menerima amanah tersebut. Mulai hari itu, di samping tetap mengajar di madrasah, beliau yang bertugas menerima para tamu yang sowan ke ndalem, melayani warga kampung yang sedang ada hajat, mengisi khotbah Jumat di masjid desa, menghadiri undangan ceramah dan tausiah dari berbagai daerah, serta melakukan hal-hal yang biasanya menjadi job desk seorang kiai.

Dari beberapa guru sepuh, Pak Usman memang satu-satunya yang masih melajang di usia yang sudah tidak muda lagi. Sebetulnya beliau sempat hampir menikah namun tidak jadi. Yang pertama dulu ada calon mempelai yang beliau pilih sendiri namun dibatalkan sebab tidak mendapat restu dari Mbah Yai entah karena apa Pak Usman tidak diberitahu. Sebagai umumnya seorang santri, Pak Usman berusaha legowo dan manut apa yang Mbah Yai kehendaki. 

Tak berputus asa, Pak Usman kemudian kembali mencari seseorang yang siap beliau jadikan istri. Selang beberapa waktu yang singkat, beliau menemukan perempuan yang sesuai dan beruntungnya Mbah Yai kali ini merestui. Pak Usman pun berniat langsung berkunjung ke rumah orang tuanya. 

Ketika memberitahu maksud kedatangan beliau, yaitu untuk melamar putri mereka, keduanya ternyata keberatan untuk menerima lamaran Pak Usman sebab sudah ada calon yang mereka pilihkan. Tak ingin memaksakan kehendak, Pak Usman pun mengurungkan niat beliau dan segera pamit pulang. Beliau kembali harus menerima kenyataan yang pedih. 

Mbah Yai kemudian memutuskan untuk memilihkan perempuan yang kira-kira pantas dan cocok untuk Pak Usman, Bu Siti namanya. Bu Siti kebetulan juga seorang alumni pesantren al-Hidayah dan sekarang mengajar sekolah dasar di kotanya. Pak Usman manut-manut saja sementara Bu Siti pun tampak bersedia. Kedua orang tuanya juga setuju sehingga hari pernikahan langsung ditentukan. 

Seluruh persiapan sudah dilakukan mulai dari menyebar undangan, menyewa tenda, memesan katering, dan lain-lain, semuanya lancar dan tidak ada kendala apa pun. Hingga sepekan sebelum akad dilangsungkan, Allah ternyata berkehendak lain. Bu Siti meninggal karena serangan jantung. Pernikahan pun dibatalkan. Pak Usman lagi-lagi harus mengalami kejadian yang sama sekali tidak mengenakkan. Hal-hal seperti ini terjadi entah empat atau lima kali sehingga beliau pasrah dan memilih untuk mengabdikan diri di pondok saja.

***

Pak Usman berkhidmat sepenuhnya di pesantren. Beliau berusaha mengajar para santri dengan sungguh-sungguh. Ketika di kelas, kayu rotan selalu melekat di tangan kanan beliau. Jadi kalau ada santri yang hafalannya kurang lancar atau macet-macet saat sorogan (membaca kitab berbahasa Arab beserta maknanya), pasti rotan melayang entah ke bagian tangan atau punggung santri. Pak Usman melakukan ini bukan karena semata-mata kejam melainkan bentuk kasih sayang seorang guru demi kebaikan para santri. Jika nanti seorang santri menjadi alim, yang paling merasakan manfaatnya adalah si santri itu sendiri, bukan siapa-siapa. 

Beberapa hari lagi akan memasuki bulan Ramadan. Seperti pesantren salaf yang lain, kegiatan mengaji di bulan Ramadan selalu sangat padat. Pak Usman memberitahu para santri bahwa kegiatan mengaji kali ini akan membahas dua kitab besar, yaitu kitab tafsir Al-Quran dan kitab matan hadis sahih. 

Kajian saat bulan Ramadan biasanya dimulai sekitar pukul tujuh sampai sembilan pagi. Lalu istirahat sebentar sekitar sepuluh menit dan dilanjutkan lagi hingga Zuhur. Jam satu siang kajian kembali berlangsung sampai waktu Asar. Sehabis Asar, kegiatan mengaji dilanjutkan lagi hingga kira-kira sepuluh menit sebelum beduk azan Magrib. Setelah Tarawih, kajian diteruskan sampai pukul dua belas malam. Begitu seterusnya sampai seluruh isi redaksi kitab benar-benar khatam.

Hari pertama Ramadan, kegiatan mengaji pun dimulai. Pak Usman mengajar kitab kepada para santri hingga pada hari ke empat belas. Selepas Zuhur, kajian berlangsung seperti biasa sampai sesaat sebelum waktu Asar, beliau menutup majelis terlebih dahulu untuk dilanjutkan nanti setelah sembahyang.

"WaLlahu a'lam bishshowab." Pungkas Pak Usman sambil menutup kitab. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba darah mengucur dari kening beliau kemudian ambruk seketika itu juga. Para santri berbondong-bondong melihat apa yang sebenarnya terjadi pada guru mereka. 

Setelah dilarikan ke rumah sakit dan dilakukan pemeriksaan, Pak Usman diberitahu oleh dokter bahwa beliau mengalami pecah pembuluh darah di sekitar kening. Kata dokter, kadar gula, tekanan darah, dan kolesterol Pak Usman sangat tinggi. Beliau harus istirahat beberapa waktu agar bisa kembali pulih. Sejak saat itu, Pak Usman kesulitan untuk berjalan sehingga ke mana-mana harus dibantu dengan tongkat. Meski begitu, beliau tetap teguh dan istikamah dalam berkhidmat untuk pesantren serta menjalankan tugas-tugas mengajar seperti sedia kala. Yang agak berbeda lagi, Pak Usman sekarang lebih kalem dan lembut dalam mengajar para santri.

***

Sesudah beberapa tahun, akhirnya tiba waktunya bagi Gus Adib untuk boyong. Dia akan dijodohkan dengan putri dari sahabat almarhum abahnya yang juga tokoh kiai. Bisa dibilang, orang yang akan menjadi istrinya adalah seorang Ning. Calon istri Gus Adib, Ning Nila namanya, bukan sembarang Ning. Dia merupakan seorang hafizhah 30 juz dan lulusan dari salah satu perguruan tinggi di Tunisia. Kapasitas keilmuannya tentu tidak perlu diragukan. Memang sepantasnya begitu, seorang Gus mendapatkan jodoh Ning agar tetap kufuw (sepadan, setara, seimbang). 

Di sini, Pak Usman yang mengurus segala keperluan untuk pernikahan keduanya. Beliau sungguh-sungguh berkhidmat sepenuhnya, tidak hanya kepada kiai, tapi juga pada putranya. Setelah acara berakhir, Pak Usman berniat untuk bertemu dengan Gus Adib. Beliau ingin meminta izin boyong kembali ke kampung karena dirasa tugas di pesantren telah selesai. 

Biarkan Gus Adib yang mengelola dan merawat pesantren warisan abahnya sebab tentu saja dia yang lebih berhak. Belum sempat menyampaikan maksud beliau, Gus Adib tiba-tiba berkata,

"Pak Usman di sini saja, di pondok. Saya masih muda, Pak, masih belum banyak pengalaman. Harus ada yang selalu membimbing saya dalam merawat pesantren sebesar ini. Tolong ya, Pak Usman."

"Nggih, Gus." Jawab Pak Usman dengan perasaan campur aduk sambil menahan air mata yang tiba-tiba menggenang di kedua mata beliau sebab kerendahan hati Gus Adib. "Tapi Gus, jika nanti saya meninggal, apakah boleh kuburan saya ditempatkan di samping makam Mbah Yai? Biar saya yang menggali liangnya sendiri supaya tidak merepotkan orang-orang." Pinta Pak Usman tiba-tiba.

Gus Adib terdiam sejenak mendengar permintaan aneh dari Pak Usman. Lalu katanya, "Boleh, Pak Usman, silakan. Tapi jangan Pak Usman sendiri yang menggali lubangnya, Panjenengan sudah sepuh. Nanti saya mintakan bantuan santri saja." Ucap Gus Adib mencoba memberi Pak Usman pengertian.

"Tidak apa-apa, Gus, biar saya sendiri saja." Sahut Pak Usman halus dan tetap kukuh dengan permintaannya.

"Ya sudah, Pak. Monggo kalau itu hajat Panjenengan."

"Matur nuwun, Gus."

Keesokan harinya, Pak Usman segera membuat liang yang nantinya akan menjadi tempat peristirahatan terakhir beliau—tepat di sisi makam Mbah Yai seperti yang beliau minta. Dalam kondisi seperti itu, beliau tentu tidak mungkin menyelesaikannya dalam sekali kerja. Para santri yang tidak tahu apa-apa hanya merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh guru sepuh itu. 

Ada beberapa dari mereka yang sempat menawarkan diri untuk membantu tapi selalu ditolak secara halus oleh Pak Usman. Nggak usah, Kang, biar saya saja sendiri, begitu ucap beliau. Selang beberapa hari berikutnya, liang itu akhirnya benar-benar jadi. 

Waktu-waktu kemudian berlalu seperti biasa. Sejak adanya Gus Adib, Pak Usman beralih mengurus pembangunan gedung-gedung pondok yang baru sedangkan urusan pendidikan dan pembelajaran pesantren diserahkan sepenuhnya kepada Gus Adib. Suatu malam, Pak Usman tiba-tiba meminta salah satu santri ndalem, Kang Anas, untuk membuatkan beliau segelas susu putih.

"Kang, tolong buatkan susu putih hangat, ya." Pinta Pak Usman yang duduk sembari membaca-baca kitab di kamar beliau.

"Nggih, Pak." Jawab Kang Anas lalu segera beranjak menuju dapur.

Tak lama kemudian, Kang Anas datang dan meletakkan minumannya di atas meja, "Monggo, Pak." Ucap Kang Anas dengan meletakkan minuman di atas meja.

"Suwun, Kang.” Kata beliau dengan melirik minuman yang beliau minta.

Pak Usman tidak langsung meminumnya. Beliau berangkat ke musala pondok lebih dulu untuk salat tahajud seperti biasa. Kembalinya ke kamar, beliau baru meminum susunya setelah itu tidur. Paginya, beliau ternyata tidak bangun lagi. Pak Usman wafat dan dimakamkan di liang yang telah beliau gali sendiri tepat di sebelah makam Mbah Yai.

Rembang, Juli 2021.


Oleh: A. Zulfa Muntafa (2018) 

Penulis lahir pada 29 April tahun 2000 di Kemadu—Sulang, Rembang, Jawa Tengah. Penulis berstatus sebagai mahasiswa di program studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Walisongo Semarang. Beberapa cerpennya sudah pernah dimuat di Kompas, Tatkala, ISMARO Tuban, dan media-media lainnya.

Email: abdullahzulfa7@gmail.com

No. HP/WA: 085600136794

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wasit Asosiasi Futsal Kabupaten Rembang Disorot, Final Kamaresa Futsal Cup Diwarnai Protes

Pembuka Semarak Dies Natalis ke-31: Kamaresa Futsal Cup Vol. 2

KAMARESA Gelar Meet Up Sapa Maba Batch 2: Pererat Silaturahmi dan Kenalkan Lingkungan Kampus