Egosentrisme Manusia dan Cara Spiritualisme Mengatasinya

Sumber: Google.com


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, egosentrisme diartikan sebagai sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala hal. Sikap seperti agaknya melekat begitu kuat pada makhluk hidup di muka bumi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Reza Gunawan selaku Praktisi Kesehatan Holistik bahwa ego merupakan sense of I atau ini adalah saya. Maksudnya, setiap makhluk hidup memiliki ego yang tinggi untuk tetap mempertahankan hidupnya. Tidak memandang apakah makhluk hidup tersebut bersel tunggal atau banyak sekalipun, mereka tetap memiliki sifat egosentrisme yang kuat. 

Sementara itu, manusia diyakini sebagai makhluk yang dianugerahi tingkat egoisme tinggi di antara makhluk-makhluk hidup lainnya. Individu dengan jumlah sel sebanyak 73 triliun ini seakan melupakan fakta bahwa sumber makanan mereka berasal dari makhluk hidup lainnya. Sebagai contoh pembanding antara tingkat egoisme manusia dengan makhluk hidup lain yaitu cara kedua makhluk ini mempertahankan hidup. Jika singa hanya berambisi untuk memangsa satu ekor zebra saja, maka hewan ini akan membiarkan sekumpulan zebra lainnya untuk melintasi kawasan raja hutan ini dengan aman. Mereka tidak berkeinginan untuk menerkam zebra lain sebagai cara mempertahankan hidup ketika ia telah memiliki santapan makanan.

Namun, lain halnya dengan manusia. Mereka sangatlah bertolak belakang untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Manusia perlu memiliki beragam keterampilan guna menyokong kehidupan di masa depan, seperti keterampilan menggeluti bidang tertentu yang akan memberikan jaminan pekerjaan di masa mendatang. Entah berupa keterampilan menulis atau menguasai bidang teknologi lain yang sekiranya mampu memberikan jaminan keberlangsungan hidup mereka. Dengan demikian, dapat diberikan perumpaan berupa apabila manusia dihadapkan pada dua pilihan yakni merusak atau menjaga kelestarian alam, sudah barang mungkin jika mereka tidak melihat makna mendasar dari kedua opsi tersebut. Makna filosofinya tidak penting, karena bagi manusia hal yang terpenting justru berasal dari opsi yang dipilihnya. 

Dengan kata lain, opsi tersebut yang nantinya akan menjamin keberlangsungan hidup mereka. Sederhananya, manusia tidak peduli jika hal yang dipilih dapat berakibat pada rusaknya ekologi, karena yang terpenting adalah nafsu egoisme mereka untuk bertahan hidup tetap dapat terpenuhi. 

Sebut saja permasalahan global warming yang masih menjadi persoalan dunia hingga sekarang. Polusi udara yang dihasilkan oleh asap karbondioksida kendaraan masih saja menjadi permasalahan global yang sulit teratasi. Penelitian-penelitian yang menyebutkan bahwa hal seperti ini dapat berdampak pada menipisnya lapisan ozon, tampaknya dianggap sebagai hal sepele bagi manusia. Tidak hanya itu, perubahan iklim yang terjadi saat ini semakin memperparah kondisi cuaca di dunia. Di sisi lain, manusia justru semakin memperkeruh keadaan dengan menebang pohon sembarangan tanpa melakukan tanam ulang guna menjaga ekosistem alam. Sudah banyak contoh mengani penggundulan hutan yang diubah menjadi hunian keserakahan manusia. Dengan kata lain, fakta seperti ini semakin memperkuat anggapan bahwa manusia merupakan makhluk hidup dengan egoisme tertinggi dalam mempertahankan kehidupannya. 

Sementara itu, Adeline Windy selaku Wholeness Coach menuturkan jika manusia menginginkan segala sesuatu yang bersifat pasti dan stabil. Hal ini bisa dilihat dari sikap manusia yang mengalami keterkejutan ketika menghadapi hal baru yang belum pernah ditemui sebelumnya. Mereka akan merasa kesulitan ketika menghadapi persoalan yang tidak bisa diatasi. Bahkan, kondisi seperti ini akan mengantarkan individu-individu pada terganggunya kesehatan mental mereka. Manusia akan mudah mengalami stres ketika menghadapi perubahan yang tidak pernah diprediksi otak sebelumnya. Walaupun seringkali merasa di atas awan, manusia tetaplah makhluk yang terus diintai oleh ancaman stres. Akibatnya, daya tahan tubuh mereka akan menurun dan sudah barang pasti kesehatan mental juga akan dilanda permasalahan. 

Manusia akan terus menerus berputar pada lingkaran yang sama sebagai dampak dari sikap egosentrisme tersebut. Hanya saja, semakin berkembangnya peradaban juga turut memunculkan penemuan baru yang dapat membantu manusia sebagai jalu alternatif dari problematika tersebut. Penemuan itu ialah spiritualisme. Jalan alternatif ini diyakini sebagai upaya untuk memberikan motivasi pada manusia untuk menghadapi masa-masa sulit. Manusia yang semula mempertahankan egosentrismenya dalam mempertahankan hidup dengan menghalakan berbagai cara, termasuk merusak ekologi sekalipun akan termotivasi untuk berkumpul bersama dengan sesama penganut kepercayaan untuk saling berdoa dan melakukan ritual ibadah lainnya. 

Di saat seperti inilah, mereka berada pada titik terlemah karena pada dasarnya spiritualisme itulah yang memengaruhi cara berpikir otak untuk bertindak dan beraktivitas, bukan kebalikannya yaitu otak yang memengaruhi spirirtualisme manusia. Artinya, cara bekerja otak sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental manusia, sehingga dibutuhkan spiritualisme yang kuat guna mendukung kemaksimalan cara kerja otak.

Namun, bagaimana jadinya jika kebiasaan berkumpul untuk beribadah justru terhalang oleh kondisi pandemi covid-19 yang entah sampai kapan berakhirnya? Manusia yang semula beribadah secara beramai-ramai, justru mengalami perubahan 180 derajat berupa harus menjalani kegiatan keagamaan secara individu atau dilakukan sendiri di rumah. Di sisi lain, prediksi demi prediksi terus berseliweran di layar kaca yang memperkirakan ujung dari pandemi ini. Akan tetapi, semua yang dikatakan hanya berupa isu belaka dan belum dapat dipastikan kejelasannya. 

Maka, manusia perlu belajar untuk menerima ketidakpastian dalam hidup. Pandemi yang belum berakhir memang memaksa kita untuk menjalani segala sesuatu secara terbatas. Sudah menjadi naluri manusia untuk tidak menyukai hal-hal yang belum pasti. Hal ini terjadi karena ketidakpastian tersebut akan menambah beban pikiran mereka. Sehingga, kesehatan mental akan turut berpengaruh seperti yang telah dijelaskan pada uraian sebelumnya. Di sinilah peran spirirtualisme sangat dibutuhkan untuk menjawab ketidakpastian yang dibenci oleh manusia. Mengutip dari hellosehat.com, agama memiliki peran dalam mengajarkan arti dan tujuan hidup guna mengatasi permasalahan yang dihadapi. 

Agama akan menyadarkan manusia bahwa kehidupan tidak luput dari cobaan dan musibah, seperti halnya pandemi sekarang. Tidak hanya itu, agama juga menganjurkan manusai untuk menjauhi segala sesuatu yang mengundang munculnya permasalahan, misalnya sumber stres yang bisa berujung sebagai sebab dari penyakit serius. Selain itu, agama bisa memberikan harapan yang baik bagi manusia. Agama berperan mendorong untuk memunculkan rasa optimisme ketika hal buruk tengah menimpa mereka. Agama akan mengajarkan untuk menerima segala hal meskipun tidak sesuai dengan keinginan manusia. Sederhananya, Tuhan menyuruh manusia untuk memasrahkan diri kepada-Nya dan mengharap segalanya akan berakhir dengan baik-baik saja.

Rasa kebersamaan dengan cara saling mendukung yang hadir sebagai sesama penganut kepercayaan sangat berperan penting di masa pandemi sekarang. Meskipun terhalang jarak dalam melakukan ritual ibadah bersama, agama tetap mampu memunculkan rasa tenang ketika manusia melakukan ritual ibadah secara mandiri di rumah, seperti doa dan bentuk meditasi lain guna merelaksasikan tubuh. Sehingga, manusia mampu meredam rasa stres pada pikiran. Sebagaimana yang diucapkan oleh profesor psikiatri di University of New Mexico School of Medicine di Albuquerque, Mario Cruz, MD, 

 “Agama dapat membantu dengan memberikan dukungan sosial, sumber daya, dan sarana internal yang mampu mengatasi dampak dari penyakit pada kehidupan seseorang.”


Oleh: Miftakhul Azizah (2019) 

Koordinator Divisi Pendidikan dan Wacana


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wasit Asosiasi Futsal Kabupaten Rembang Disorot, Final Kamaresa Futsal Cup Diwarnai Protes

Pembuka Semarak Dies Natalis ke-31: Kamaresa Futsal Cup Vol. 2

KAMARESA Gelar Meet Up Sapa Maba Batch 2: Pererat Silaturahmi dan Kenalkan Lingkungan Kampus